Rei adalah anak
berumur 15 tahun, kelas 3 SMP ia sangat pintar serta selalu mendapat ranking 1
di kelasnya dan juga sangat terkenal di sekolahnya meskipun begitu ia itu bocah
yang tidak mau peduli dengan sekitarnya namun anehnya dia begitu gembira jika
sedang berkelahi, bahkan pernah berkelahi dengan 15 anak SMA hingga diantara
mereka sampai ada yang pingsan, dengan prinsip hidupnya yaitu “Pembalasan Itu
Lebih Kejam” ia tidak takut siapapun asalkan ia tidak salah. Akan tetapi Rei
merasa sangat bosan dengan kehidupannya yang kurang menarik padahal bagi
orang-orang disekitarnya hidupnya sudah sangat sempurna tapi tidak bagi Rei, ia
bahkan ingin sekali memiliki orang tua seperti teman-temannya. Banyak
teman-teman Rei tidak mengetahui kalau Rei hampir tidak pernah berbicara
langsung dengan orang tuanya, karena Rei tinggal dirumah mewah milik
keluarganya hanya bersama 2 orang pembantu rumah tangga dan adiknya yang
bernama Yui, ibu mereka telah meninggal penyebab kematiannya tidak diketahui,
sedangkan ayah mereka bekerja diluar negeri sehingga ayahnya hanya mengirimkan
uang dan tidak pernah pulang. Yui adalah gadis berumur 10 tahun kelas 4 SD, Yui
sangat periang dan sangat peduli dengan sekitarnya, tidak seperti Rei, Yui
tidak begitu pintar serta kondisi fisiknya lemah, yang lebih parah Yui trkena
kanker otak, namun hanya Yui dan dokter pribadinya yang tahu, karena ia tidak
mau merepotkan Rei yang akan menjalani ujian kelulusan.
Pada
suatu hari sebelum ujian kelulusan, penyakit Yui semakin parah padahal dokter
Yui telah menyarankan untuk perawatan lebih lanjut, tapi Yui menolak.
“kau ini keras kapala
sekali, kau itu seharusnya sudah menjalani perawatan lebih” kata dokter yang dengan sedikit emosi.
“sudahlah dok! Aku tak mau menghabiskan sisa hidupku hanya berdiam
dirumah sakit dan jika aku dirawat di rumah sakit nanti kakak akan cemas pada
akhirnya kakak tidak bisa berkonsentrasi ke ujiannya.” Kata Yui dengan sangat
tenang.
“tapi kan kakakmu tidak pernah memperhatikanmu, kenapa kamu
selalu memikirkannya?” tanya sang dokter tambah kesal ”ditambah lagi dia sangat
pintar, bahkan bisa dikatakan jenius!” lanjut dokter
“huh! Memang sih ia nampak seperti tidak memperdulikanku,
tpi entah mengapa aku dapat merasakan kasih sayangnya, dan yang paling aku suka
adalah setiap minggu aku selalu dibelikan subuah novel dan komik yang aku suka,
pernah loh didalam buku itu ada sebuah kalung yang sangat lucu!” kata Yui
sambil menunjukkan kalung yang berada dilehernya.
“baiklah kalau itu mau mu, tapi jika kakakmu sudah selesei
ujian mau tidak mau kau harus menjalani perawatan” sahut dokter. “ oke
dech!!!!!” kata Yui dengan berlari meninggalkan dorter tersebut.
Setelah
ujiannya selesei dan beberapa harikemudian Rei dinyatakan lulus dengan nilai
tertinggi akan tetapi ia tidak meras senang sama sekali, kemudian dia pulang
seperti biasa, sesampai dirumah ia disambut oleh Yui.
“ gimana ujiannya? Ah! Pasti dapat nilai tertinggi lagi ya?,
emang sih kalau kakak yang dapat nilai tertinggi aku gak kaget! Tapi gimana
kalau kakak dapat nilai terendah? Mungkin kakak gak bakal peduli sih, tapi jika
itu aku yang dapat nilai tertinggi? Hmm!.... mungkin aku sangat senang sekali.
Jadi gimana nilaimu? Tanya Yui panjang lebar
“sudah kau jawab sendiri masih nanya! Huh! Kalau kau
gimana?” tanya Rei
“jelaskan kalau aku selalu menjadi yang terakhir” jawab Yui
dengan riang
"sudah kuduga!” komentar Rei
“terima kasih kakak” sahut Yui
“itu bukan pujian bodoh!!!!!!!!” teriak Rei
“Maka dari itu kau harus mentraktirku!” Kata Yui nggak
nyambung
“He?......... apa hubungannya?” tanya Rei bingung
“hehehehehehehe!! Bercanda kok! Aku yang akan mentraktir
kakak ats keberhasilanmu dan” Yui menghentikan perkataannya
“apa?” tanya Rei penasaran
“ dan kaka harus mentraktirku atas kegagalan k, oke!” jelas
Yui
“hah?” Rei menjadi
semakin bingung
“sudah ya! Aku mau tidur dulu, bye bye!”
“dasar anak aneh” ujar Rei dalam hati
Padahal saat itu Yui sedang merasakan sangat sakit pada
kepalanya, dan ia berusaha menahnnya agar tidak diketahui oleh kakaknya.
Pada
malam harinya Rei dan Yui pergi ke taman kota, disana Yui mengajak Rei untuk
bermain seperti halnya anak kecil tapi Rei menolak tanpa pikir dahulu, karena
Rei tidak mau kemudian Yui memutuskan untuk mencari teman, dan dapatlah seekor
teman laki-laki yang seumuran dengan Yui bernama Didin, setelah mereka bermain,
tak lama kemudian tiba-tiba Didin berteriak sangat kencang dengan menyebut nama
Yui, sehingga membuat Rei kaget dan mencari asal teriakan tersebut, ternyata
disana ada Yui yang tergeletak tek sadarkan diri serta hidung dan mulutnya
mengeluarkan darah. Kejadian tersebut membuat Rei sangat bingung, namun ia
sadar jika tidak ada waktu untuk berfikir, pada akhirnya Rei membawa Yui ke
rumah sakit terdekat, secara kebetulan dirumah sakit itu terdapat dokter yang
menangani penyakit Yui, tak lama kemudian rei mendapat penjelasan dari dokter
tersebut tentang penyakit Yui yang sudah sangat parah. Seketika itu Rei diam
dan hanya duduk termenung, pekirannya kacau. 1 minggu telah berlalu serta Yui
masih belum sadar namaun pada saat Rei hendak ke kamar Yui, ia di kagetkan
dengan Yui yang sedang membaca buku milik Rei. Tanpa pikir panjang Rei langsung
memeluk adiknya tersebut, kejadian itu membuat Yui terkejut dan bingung dengan
tingakah laku kakaknya itu.
“ada apa kak? Aku kan Cuma kesandung dan pingsan beberapa
jam saja” tanya Yui dengan berlagak bodoh
“bodoh!!!! Kenapa kau tak memberi tahuku sejak awal tentang
kankermu itu, dan kau pingsan sudah 1 minggu bodoh!” sentak Rei dengan menahan
air matanya “ aku aku aku sangat mengkhawatirkanmu dasar idiot”, lanjut Rei
yang telah meneteskan air mata
Untuk paetama kalinya Yui melihat Rei mneneteskan air mata
dan ia sadar bahwa apa yang telah dilakukannya itu salah serta meminta maaf
“kak!! Aku minta maaf”
“sudahlah semuanya sudah terjadi, tapi kamu harus berjanji
padaku”
“berjanji? Tentang apa?”
“berjanji bahwa jika kamu memiliki masalah maka kau harus
beritahu aku! Okey?” kata Rei berusaha
tersenyum
“okey! Aku janji”.
Esoknya
Yui meminta Rei agar tidak memberitahukan masalah ini kepada ayahnya , tanpa
pikir lama Rei lamgsung menyetujui keinginan adiknya itu, karena Rei sudah
mengirimkan pesan 1 minggu sebelumnya kepada ayahnya namun tidak ada balasan.
Kemudian Rei ingat bahwa 2 hari lagi adalah ulang tahun Yui, Rei berencana
untuk membelikan hadiah kepadaYui. Besoknya ia pergi ke pusat perbelanjaan,
pada waktu perjalanan tas yang ia bawa direbut oleh 2 orang yang mengendarai
sepeda motor, meskipun Rei telah mencoba untuk mengejarnya tapi tetap saja
tidak dapat karena mera melaju dengan sangat capat. Saat berlati ia berhenti
dan berpikir sejenak kemudian tertawa sendirian seperti oranga gila.
“hahahahahahahahahahaha! Bodohnya aku, tas itukan cuma tas
kosong yang kubawa untuk wadah barang yang akan kubeli nanti” gerutunya “ tapi
akan kubalas kalian karena sudah membuataku repot begini! Huh!” lanjutnya
denagn memandangi indahya bulan malam itu
Ketika Rei sudah sampai di sebuah mallia terhenti di toko buku, ia memilih novel dan komik yang
dicari oleh Yui sejak dulu, saat perjalanan pulang ia melihat ada seekor cewek
yang sedang berebut tas dengan 2 orang laki-laki, kebetulan rei juga melintasi
jalan tersebut, tak disangka 2 orang itu adalah orang yang mengabil tas Rei
tadi, seketika itu ia langsung berlari dan menendang mereka berdua hingga
terjatuh, ia merasa sangat senang sekali karena dapat membalas kejadian tadi.
“saiapa kau?” teriak salah satu orang yang merasa kesakitan
“hei, kalian kan yang mengambil tasku tadi?” tanya Rei
“owh ternyata kau! Dasar miskin, tas kosong aja dicariin”
ejek orang yang satunya lagi sambil berdiri
“terserah kau sajalah” ujar rei pelan dengan perlahan menuju
mereka berdua
Perkelahianpun tak terelakkan, cewek tadi hanya diam dan
bingung melihat tinkah laku Rei. Dalam beberapa menit mereka sudah terkapar
tapi yang satunya membawa pistol “akan kubunuh kau!” kata orang itu menodongkan
pistolnya kearah Rei.
“awas!! Dibelakangmu” teriak cwek itu memperingatkan Rei.
Ketika Rei menoleh kebelakang, suaratembakan terdengar keras
“duarrrrrrrr” cewek itu langsung pingsan setelah melihat peristiwa itu. Rei
yang tidak siap terkena dibagian kakinya, kemudian ia langsung berlari ke orang
tersebut dan mematahkan lengannya.
“sialan kau! Dasar bodoh!” rintihan Rei yang menahan ras
sakit
Akibatnya kaki Rei terasa mati rasa dan ia tidak bisa berjalan,
sesegera mungkin ia mengikat lukanya untuk menghentikan pendarahan serta
menunggu cewek itu sadar kembali, “perempuan ini manis juga” pikir Rei. Tak
terasa ia sudah memandang muka cewek tersebut selama 2 jam bahkan setelah cewek
itu sadar Rei masih saja menatapnya dengan tatapan yang mencurigakan, tentu
saja cewek itu kaget setengah hidup karena ada sosok laki-laki berlumuran
rdarah duduk disampingnya, serta memandanginya dengan tatapan yang sangat
mencurigakan, “haaaaaaaaaaa! Tolong-tolong, ada orang jahat” teriak cewei itu
dengan sekuat tenaga.
“eh, tolong tenang, tenanglah” ujar Rei pelan
“emangnya kau ini siapa dan kenapa ada begitu banyak darah
di tubuhmu? Jangan-jangan kau kanibal ya?” tanya cewek itu panik
“jangan suka menyimpulkan seenaknya kau sendiri!” komentar
Rei
“kalau begitu siapa kau dan kenapa kau?” tanya cewek itu
lagi
“aku Rei, aku tertembak” jawab Rei singkat
“oleh?”
“dia” sambil melihat orang tadi
“apa? Kau yang melakukan itu padanya? Owh iya! Kau kan yang
menyelamatkanku dari mereka ya!”
“Sudah ingat kau rupanya”
Aku Inori” kata cewek itu mencoba memperkenalkan diri
“aku gak nanya!” jawab Rei dingin
“sialan kau” ujar Inori dengan wajah kesal
“ya udah aku pulang!” kata Rei sambil Berdiri “aduh!” Rei
terjatuh karena kakinya masih terasa mati rasa
“huh!” kemudian Inori berdiri “sebagi tanda terima kasih aku
akn mengobati lukamu”
“terserah kau sajalah”
Ketika Inori membeli obat ia merasa penasaran dengan Rei,
saat Inori sudah sudah kembali dengan membawa obat luka dan perban kemudian ia
mendapati Rei sedang memandangi langit dengan tatapan yang serius
“sedang apa kau?”
tanya Inori penasaran
“melihat bintang”
“tampak indah ya? Mereka (bintang) bisa bersinar sangat
terang, aku sangat menyukainya,” jelas Inori “apa kau juga suka?” tanya Inori
“aku malah membencinya” jawab Rei dengan nada datar
“ha? Kenapa?”
“mereka (bintang) bersinar seenaknya saja, membuatku tak
nyaman saja”
“lho kenapa? Bintang itu kan tampak indah!”
“betul juga apa yang kau katakan”
“terus kenapa kau tak nyaman?”
“aku tak tahu”
“kau memang aneh”
Pada saat Inori mengobati luka Rei kemudian Rei bertanya
“kenapa kau tadi tiba-tiba pingsan?”
“owh kalau itu Cuma gara-gara jantungku”
“emang keapa dengan jantungmu?”
‘aku juga tak tahu, yang pasti jika jantungku terlalu cepat
berdetak aku jadi tidak bisa bernafas pada akhirnya aku pingsan deh”
“huh! Kasihan sekali kau ya”
“ya begitulah, eh sekali lagi terima kasih loh sudah
menolongku!”
‘jangan salah sangka! Aku bukanny ingin menolongmu tapi aku
cuma ingin balas dendam saja kepada mereka”
“memangnya ada apa?”
Kemudian Rei
menceritakan peristiwa yang menimpanya tadi
“apaaaaaaaaa!” teriak Inori kaget, ‘jadi kamu balas dendam
cuma gara-gara mereka membuat kau membuang enerfimu dengan percuma?” tanya
Inori lagi
“iya” jawab Rei
Tak terasa waktu telah tengah malam. Ternyata Inori adalah
gadis yang seumuran dengan Rei dan mereka tinggal di kota yang sama, kemudian
mereka pulang bersama, tapi sikap Rei sangat dari biasanya sekarang ia bisa
tertawa lepas dan mengobrol bebas dengan Inori.
Esoknya
waktu hari ulang tahun Yui, Rei langsung memberikan hadiah dan Yui sesegera
mungkin membukanya. Betapa terkejutnya Yui saat membuka kado yang didalamnya ia
melihat buku yang sangat di inginkannya karena sudah sangat langka dan tidak
diproduksi lagi.ketika melihat Yui tersenyum dan bilang “terima ksih kakak”,
senyuman Yui dan kata itulah yang dapat membuat hati Rei tenang. Tak terasa Rei
sudah masuk kelas 1 SMA, seawaktu Rei memaksuki ruang kelasnya yang pertama
kali dilihat adalah perempuan yang duduk dimeja paling depan yaitu Inori,
betapa senangnya Rei sat melihat Inori, tapi di pojok kelas terdapat sekelompok
anak berandalan yang tidak naik kelas. Mereka menyebut dirinya sebagai PHANTOM
beranggotakan 6 orang anak............. to be continyu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar